10 September 2009
Perempuan, Kepemimpinan dan Pengembangan
Isu kepemimpinan perempuan menjadi sorotan utama dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Wanita Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Bertema konferensi “Perempuan, Kepemimpinan dan Pengembangan dalam Masyarakat Muslim se-Asia Tenggara: Strategi, Peluang dan Tantangan,” konferensi terselenggara bekerjasama dengan CIDA, MORA dan Universitas McGill. Kalyanamitra menjadi bagian dalam konferensi ini yang diadakan pada 12-13 Agustus 2009 di Hotel Milenium, Jakarta.
Tujuan konferensi ini adalah untuk memetakan secara luas keterlibatan perempuan dalam bidang pendidikan dan politik di Indonesia dan Malaysia, mengidentifikasi hambatan struktural dan internal yang menyebabkan perempuan jauh tertinggal dibelakang laki-laki, juga dan untuk menegaskan kembali peluang, tantangan dan strategi dalam pengembangan keterlibatan perempuan. Narasumber dari Indonesia, Malaysia dan Amerika Serikat membahas mengenai seputar isu perempuan, kepemimpinan, politik, pendidikan dan regulasi.
Profesor Aminah Wadud (Starr King School for Ministry – Berkeley, USA) memberikan introduksi yang sangat baik dalam konferensi ini sebagai pembicara pembuka. Dia berbicara tentang “Perspektif Teologis dari Islam,” membahas kaitan perempuan dan kepemimpinan dalam Al-Qur’an. Dia menjelaskan perbedaan interpretasi dari peran perempuan di masyarakat dengan perempuan sebagai pemimpin yang tercantum dalam Al-Qur’an. Dia juga menjelaskan bahwa penyebab sistem patriarki adalah norma yang berada dalam masyarakat Muslim, ada pemikiran logis bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan dalam segala hal. Dia mengatakan masyarakat Muslim saat ini dikunci di dalam metodologi itu yang problematis bagi dunia modern. Dia percaya bahwa logika tersebut tidak diaplikasikan dalam masyarakat sekarang dan bahwa kemampuan semua orang harus diuji. “Kami mempunyai dasar-dasar teologis untuk membantah kepemimpinan perempuan,” katanya. Profesor Wadud mengakhiri statemennya dengan mengatakan: “Kemampuan perempuan untuk beraktualisasi bukan berdasarkan gender”.
Oleh Cathy Parker