|
Kalyanamitra berdiri pada 1985 yang hadir sebagai respon terhadap ketidakadilan yang dihadapi perempuan Indonesia. Kalyanamitra menyatakan diri sebagai lembaga perempuan non pemerintah yang independen yang menpromosikan penyadaran mengenai hak-hak perempuan. Kami memihak pada perempuan tertindas seperti buruh, petani, nelayan, dan pekerja sektor informal. Oleh karena itu, kami melakukan pengumpulan data-data mengenai berbagai aspek perempuan dan mengangkatnya ke permukaan melalui seminar, pelatihan, dan diskusi publik. Perpustakaan Kalyanamitra memiliki koleksi-koleksi mengenai isu-isu perempuan dari perspektif feminis, working paper, laporan penelitian, video, foto, dan slide yang mendokumentasikan kehidupan perempuan. Kalyanamitra juga memiliki program pendidikan mengenai pelatihan analisis gender untuk aktivis-aktivis lembaga non pemerintah. Dapat dikatakan bahwa Kalyanamitra yang memperkenalkan pelatihan analisis gender di Indonesia pada 1990. Kalyanamitra menerbitkan newsletter Mitra Media dan buletin bernama Dongbret, yang diterbitkan dalam bentuk sisipan cerita bergambar sehingga dapat dimengerti oleh perempuan kelas bawah. Publikasi diterbitkan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan penyadaran mengenai persoalan-persoalan perempuan. Akan tetapi, pada tahun 1994, saat terjadi pelarangan Tempo dan De Tik, Mitra Media juga dilarang penerbitannya oleh Pemerintah saat itu. Pada tahun 1991, sebagai bagian dari Kampanye Anti Perkosaan, Kalyanamitra menerbitkan buku saku mengenai penanganan kasus perkosaan. Pada 1993, Kalyanamitra menjadi sebuah resource center yang terbagi menjadi dua divisi kerja, yaitu Divisi Penelitian Pengembangan dan Divisi Perpustakaan. Kegiatan yang dilakukan ialah penelitian tentang persoalan perempuan pekerja di Pasar Kramat Jati, pembantu rumah tangga, pelacuran, perkosaan, pelecehan seksual, dan lainnya. Hasil penelitian itu diangkat dan disosialisasikan ke masyarakat. Tahun 1995, Kalyanamitra memperkuat kampanye tentang isu kekerasan terhadap perempuan. Kalyanamitra banyak menerima kasus-kasus perkosaan dan mulai terlibat secara langsung dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Titik kulminasinya ialah peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Ketika itu, terjadi perkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa. Kalyanamitra pun menjadi sekretariat Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) untuk korban perkosaan di Jakarta. Sejak itu, Kalyanamitra membangun gerakan perlawanan anti kekerasan terhadap perempuan baik akibat ketimpangan gender maupun oleh negara. Kerja menangani korban ini memerlukan wadah tersendiri. Dalam kaitan itu, tahun 1999 dibentuklah Divisi Pendampingan Korban di Kalyanamitra. Kemudian divisi-divisi pendukung kerja pendampingan korban, seperti Divisi Pendidikan, Divisi Kampanye, dan Divisi Perpustakaan Dokumentasi. |
|
