Kekerasan dalam Rumah Tangga Berpotensi Meningkat di Masa Pandemik COVID-19

Kalyanamitra, Jakarta – Pada 6 April 2020, situs New York Times merilis artikel yang memberitakan bahwa kasus kekerasan domestik meningkat selama masa lockdown akibat wabah COVID-19. Beberapa negara memberlakukan pembatasan sosial dan fisik selama lockdown dengan bekerja dan belajar dari rumah.

Hampir seluruh negara yang terdampak COVID-19 kini menghadapi krisis baru, yakni peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga seperti di Malaysia, Turki, Inggris, China, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres juga menyampaikan secara khusus dalam akun Twitter pribadinya pada 6 April 2020 terkait kekhawatiran gelombang kekerasan di ranah domestik berskala global.

Bagaimana di Indonesia?

Pemerintah Indonesia secara masif mengeluarkan kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah sejak kasus pertama COVID-19 terdeteksi pada Maret lalu. Dengan demikian, hampir seluruh aktivitas masyarakat dilakukan dari rumah guna mencegah penyebaran virus corona lebih luas. Di lain pihak, kebijakan ini menambah beban di tingkat rumah tangga, mulai dari beban fisik, psikis, dan ekonomi. Kondisi ini dapat menyebabkan rentan terjadinya kekerasan.

Wabah COVID-19 sangat mengguncang perekonomian keluarga di masyarakat karena banyak pengeluaran yang harus ditanggung, seperti makanan bernutrisi sehari 3 kali, multivitamin, serta komunikasi untuk bekerja dan belajar dari rumah. Di sisi lain, terjadi kerentanan penurunan penghasilan bahkan hilangnya penghasilan akibat dirumahkan atau di-PHK. Kondisi ini sangat mempengaruhi psikologis keluarga akibat stres atau depresi terhadap situasi.

Dalam keluarga yang masih memiliki budaya patriarki, perempuan dan anak selalu menjadi pihak yang paling berisiko mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Beban kerja berlapis, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan kekerasan fisik rentan dialami, apalagi jika kondisi dan situasi rumah bukan tempat yang aman bagi perempuan dan anak. Relasi  kuasa yang timpang membuat perempuan dan anak tidak berani melawan dan terpaksa diam ketika menjadi korban KDRT.

Komnas Perempuan mencatat pada 2019 jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling banyak terjadi adalah KDRT atau kekerasan di ranah privat yakni sebanyak 11.105 kasus. Pada ranah domestik ini, jumlah kekerasan yang terjadi yaitu kekerasan fisik 4.783 kasus (43%), kekerasan seksual sebanyak 2.807 kasus (25%), psikis 2.056 (19%), dan ekonomi 1.459 kasus (13%).

Dari angka ini, sebanyak 6.555 kasus merupakan kekerasan terhadap istri dan 2.341 kasus kekerasan terhadap anak perempuan (kasus inses masih banyak terjadi). Ini menunjukan bahwa rumah bukan tempat yang aman bagi perempuan dan anak perempuan. 
Data yang dilaporkan Komnas Perempuan terjadi dalam situasi dan kondisi sebelum COVID-19 mewabah di Indonesia.

Saat ini, di mana diberlakukan masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang cukup panjang, keluarga bisa jadi bukan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi perempuan dan anak, tetapi menjadi ruang yang penuh ancaman dan kekerasan. Sayangnya, kondisi ini tidak menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat sekitar untuk diantisipasi.

Oleh karena itu, antisipasi terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan harus dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan perlindungan yang adil dan setara bagi perempuan dan anak perempuan. Alokasi anggaran tidak hanya diarahkan untuk sektor kesehatan, tetapi juga memaksimalkan layanan pengaduan, konseling, dan perlindungan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dan lainnya.

Selain itu, pemerintah perlu mengupayakan kebijakan peka gender untuk mengatasi ketimpangan gender dan memaksimalkan perlindungan terhadap korban kekerasan. Dengan demikian, dalam situasi wabah COVID-19, pemerintah tidak hanya mengantisipasi krisis kesehatan namun juga krisis sosial dan kemanusiaan.
(ik)


LIPUTAN LAINNYA

Wednesday, 13 May 2020

Pernyataan Pers
Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender dalam Penanganan Covid-19 (Pokja PUG Covid-19)
“Urgensi Pengarusutamaan Gender dalam Penanganan Pandemi COVID-19”
Kami, perw...

Thursday, 30 April 2020

Kalyanamitra, Jakarta – Beberapa waktu lalu, viral sebuah video para pekerja perempuan menangis dan berpelukan satu sama lain di sebuah toko di daerah Depok, Jawa Barat. Tangisan para pekerja terse...

Wednesday, 29 April 2020

Kalyanamitra, Kalibawang – Kasus COVID-19 terus meningkat setiap harinya dan tersebar di seluruh Indonesia, baik di desa maupun kota. Untuk mencegah penyebaran wabah ini dibutuhkan kerja sama yang ...

Saturday, 25 April 2020

Kalyanamitra, Jakarta – Pemerintah Indonesia menetapkan keadaan darurat nasional untuk COVID-19 setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai pandemik global. Kebijakan nasional pun dib...