Usung Konsep ‘Fun, Fearless, and Fantastic’, Kemah Setara Ajak Orang Muda Maluku Utara Membumikan Feminisme

Keterangan: Foto bersama dalam kegiatan kemah setara ternate 2026. Foto: Dok. Kalyanamitra/Fikri Putra

Kalyanamitra bersama Suluh Perempuan telah menyelenggarakan Kemah Setara bertajuk “Gerak Bersama Dalam Ruang Pemikiran untuk Kesetaraan” pada 14 – 17 Mei 2026 di Ternate, Maluku Utara. 

Kemah Setara menjadi ruang belajar kolektif feminisme dengan cara yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda di Maluku Utara dan sekitarnya. 

Selama empat hari, sebanyak 20 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari aktivis perempuan, mahasiswa, hingga komunitas terdampak industri ekstraktif, berkumpul untuk membedah berbagai persoalan krusial di daerah mereka. Materi yang didiskusikan mencakup gender dan seksualitas, sejarah gerakan perempuan, interseksionalitas, sampai rencana aksi.

Berbeda dari ruang belajar formal yang sering kali kaku dan penuh teori, Kemah Setara dirancang dengan pendekatan Fun, Fearless, and Fantastic. Peserta difasilitasi dengan metode pembelajaran yang beragam seperti permainan kelompok, circle sharing, refleksi personal, hingga pemutaran film dan ekspresi kreatif.Selain membahas gender, seksualitas dan sejarah gerakan perempuan di Indonesia dan Maluku Utara, peserta juga mendiskusikan isu ekofeminisme, serta dampak industri tambang terhadap kehidupan perempuan dan ruang hidup masyarakat. Pemutaran dan diskusi film Pesta Babi juga menjadi bagian penting untuk merefleksikan relasi kuasa, kekerasan, dan situasi sosial yang dialami masyarakat hari ini.

Mencairkan Sekat Lewat “Halmahera Majarita”

Pendekatan Fun diwujudkan melalui aktivitas yang membangun kedekatan emosional antarpeserta, salah satunya lewat sesi Halmahera Majarita yang secara harfiah berarti “Bercerita tentang Halmahera”. Dalam malam budaya ini, seluruh peserta duduk bersama mengelilingi meja panjang yang dipenuhi makanan khas Ternate. Suasana kebersamaan dibangun melalui makan bersama, percakapan santai, cerita tentang kampung halaman, hingga saling berbagi pengalaman hidup antarpeserta dari berbagai daerah di maluku utara. Kehangatan ruang itu membuat suasana keakraban semakin terbangun.

Keterangan: Foto bersama pada sesi Halmahera Majarita. Foto: Dok. Kalyanamitra/Fikri Putra

“Halmahera Majarita bukan sebatas ngobrol sesama anak muda dari berbagai daerah se-Maluku Utara. Halmahera Majarita menjadi ruang sharing informasi dan pengalaman tentang kehidupan sosial budaya, ekonomi politik, hingga cerita-cerita tentang konflik di daerah lingkar tambang dengan fenomena yang kerap kali terjadi, seperti pencemaran sungai, kerusakan hutan, perampasan ruang hidup, hingga ketidakadilan di ranah paling kecil dalam struktur sosial yakni keluarga,” ujar Wandi, salah satu peserta Kemah Setara.

Membangun Solidaritas dan Ruang Aman

Prinsip Fearless hadir melalui dibangunnya ruang aman sejak awal kegiatan berlangsung. Selama empat hari kegiatan, forum selalu dimulai dengan sesi safeguarding, membangun ruang aman bersama, dan kesepakatan kontrak belajar. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh elemen yang terlibat saling menghormati batas aman satu sama lain. Melalui kenyamanan tersebut, peserta diajak berani membicarakan pengalaman hidup mereka, termasuk pengalaman diskriminasi, kekerasan, stigma, hingga ketidakadilan yang dialami sebagai perempuan, anak muda, dan kelompok marjinal. Dalam sesi reflektif dan circle sharing, peserta saling mendukung dan membangun solidaritas untuk menghadapi ketidakadilan sosial yang mereka alami di lingkungan masing-masing.

“Ikut Kemah Setara bikin Fika merasa didengar dan aman. Metode diskusinya interaktif mix antara sharing, role play, dan refleksi jadinya aku dapat pengalaman nyata tentang solidaritas dan praktik advokasi komunitas,” ungkap Fika, salah satu peserta.

Keterangan: Suasana kebersamaan dalam kegiatan Kemah Setara. Foto: Dok. Kalyanamitra/Fikri Putra

Untuk memastikan ruang berbagi tetap aman dan suportif, Kemah Setara juga membangun mekanisme peer support atau dukungan teman sebaya selama kegiatan. Hal ini dilakukan untuk memitigasi potensi munculnya pengalaman yang memicu trauma (triggering) ketika peserta membagikan pengalaman personalnya. Kehadiran peer support menjadi penting karena proses belajar feminisme tidak hanya soal memahami teori, tetapi juga tentang menciptakan ruang aman yang saling peduli dan menguatkan terhadap keamanan emosional peserta.

Windi, perwakilan tim Kalyanamitra yang bertindak sebagai salah satu fasilitator kegiatan, menegaskan bahwa Kemah Setara didesain sebagai ruang yang sepenuhnya bebas dari penghakiman (non-judgmental space).

“Kemah Setara didesain menjadi ruang yang bebas dari penghakiman, agar setiap individu di dalamnya dapat berani mempertanyakan banyak hal mulai dari apa yang selama ini terjadi di dalam dirinya hingga yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Keberanian ini penting untuk menumbuhkan kebebasan dalam berpikir yang kemudian berkembang menjadi individu yang merdeka untuk berekspresi. Selain itu, dari kemah setara ini kita dapat belajar bahwa menjadi ‘rapuh’ bukan berarti kita lemah, justru dari kerapuhan yang ada, kita dapat tumbuh menjadi manusia yang berani dan saling bergandengan tangan untuk bergerak bersama,” urai Windi.

Menggagas Aksi Nyata Bersama

Kemah ini juga menghadirkan nilai Fantastic melalui penyusunan strategi perubahan dan perencanaan aksi komunitas. Setelah mendiskusikan berbagai bentuk ketidakadilan yang mereka hadapi, peserta diajak untuk tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi juga membangun visi bersama tentang masyarakat yang lebih setara. Kemah Setara dihadirkan agar inisiatif gerakan juga berangkat dari kesadaran individual dan kepedulian kolektif.

Setelah melalui berbagai sesi refleksi dan perencanaan aksi, peserta menyusun gagasan perubahan yang relevan dengan konteks daerah masing-masing, mulai dari kampanye anti-kekerasan seksual, pengorganisasian komunitas terdampak industri ekstraktif, hingga pendokumentasian sejarah gerakan perempuan Maluku Utara yang selama ini jarang tercatat. 

“Habis Kemah Setara, kelompok kami akan melakukan beberapa agenda diantaranya workshop penguatan kapasitas untuk alumni kemah setara terkait pencegahan dan penanganan KS, workshop di sekolah dan kampus, kami juga berencana mau buat hotline pengaduan dan konseling, dan agenda terakhir yang akan kami lakukan yaitu pameran anti-kekerasan” jelas Ira, salah satu peserta yang tergabung dalam kelompok kampanye anti-kekerasan seksual

Adapun Wandi, peserta yang tergabung dalam kelompok penulisan sejarah gerakan perempuan Maluku Utara, menjelaskan bahwa menulis sejarah gerakan perempuan merupakan langkah penting untuk mengingatkan kepada publik bahwa perempuan Maluku Utara punya perjalanan panjang tentang perlawanan terhadap segala yang menindas, juga  punya kisah menentang segala yang merampas. 

Selain Wandi, Fika salah satu peserta yang tergabung dalam kelompok advokasi transisi energi berkeadilan dalam proyek geotermal mengungkapkan harapannya membuat kampanye kesetaraan akses fasilitas pendidikan dan pelatihan peer-support agar tercipta jaringan lokal yang siap advokasi berkelanjutan.Melalui semangat Fun, Fearless, and Fantastic, Kemah Setara menjadi ruang bagi orang muda untuk mengenal dan mempraktikan nilai-nilai feminis secara lebih membumi dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai konteks di lingkungan sekitar mereka. Di tengah situasi Maluku Utara yang terus menghadapi ancaman ketimpangan gender dan eksploitasi industri ekstraktif, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat keberanian generasi muda untuk membangun solidaritas, merawat ruang aman, dan menciptakan gerakan kolektif yang lebih adil dan setara.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted