Membaca novel Iwan Setiawan dari perspektif gender dan pengalaman nyata perempuan yang hidupnya jauh lebih berat daripada yang tertulis.

Judul: Ibuk,
Penulis: Iwan Setiawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal: 293 halaman
Di suatu pagi yang masih gelap, sebelum siapa pun di rumah terbangun, ada perempuan yang sudah berdiri di dapur. Ia menyiapkan sarapan, mengecek isi dompet, menghitung apakah gaji bulan ini cukup untuk membayar uang sekolah, cicilan, dan kebutuhan dapur sekaligus. Suaminya belum bekerja atau tidak bekerja. Anaknya masih butuh bertahun-tahun lagi untuk selesai sekolah. Dan ia seorang diri menopang semua itu, tanpa banyak kata, tanpa menunggu tepuk tangan.
Perempuan ini bukan tokoh dalam novel. Ia ada di mana-mana: di gang sempit perkotaan, di desa-desa yang jauh dari perhatian media, di kantor-kantor yang tidak pernah tahu bahwa karyawannya yang baru saja menyelesaikan pekerjaan lainnya di rumah sebelum berangkat. Ia adalah kenyataan yang hidup jauh sebelum Iwan Setiawan menuliskan Tinah dan akan terus hidup jauh setelah novel itu ditutup.
Novel Ibuk, yang terbit pada 2012 adalah kisah nyata yang ditulis Iwan Setiawan sebagai persembahan untuk ibunya. Ia bercerita tentang Tinah, seorang ibu dari keluarga sederhana di Batu, Jawa Timur, yang membesarkan lima anak bersama suaminya, Bayek, seorang kusir delman. Novel ini menjadi bestseller, menguras air mata jutaan pembaca, dan membuat banyak orang mengirim pesan kepada ibunya masing-masing. Namun dibalik kehangatan itu, ada percakapan yang belum selesai tentang beban yang dipikul Tinah, dan tentang betapa banyak “Tinah-Tinah” lain yang masih menanggungnya hari ini.
Dalam novel, Tinah adalah ibu yang tidak pernah berhenti. Ia bangun paling pagi, tidur paling malam. Ia mengatur keuangan keluarga yang serba terbatas, memastikan anak-anak makan dan bersekolah, merawat yang sakit, dan melakukan semua pekerjaan rumah tanpa seorang pun yang bisa diminta berbagi tugas dengannya. Lewat tulisan Iwan Setiawan, kita bisa melihat sebuah kondisi atas absennya sistem pendukung (support system) dan pembagian peran yang adil bagi Perempuan diruang domestik. Mengagumi Tinah hanya karena ia mampu menanggung semuanya sendirian adalah bentuk pengabaian terhadap haknya untuk beristirahat dan bertumbuh sebagai manusia seutuhnya.
Tapi ada versi Tinah yang lebih berat dari itu, perempuan yang tidak hanya mengurus rumah, tapi juga menjadi satu-satunya pencari nafkah. Yang suaminya, karena satu dan lain hal, tidak lagi bekerja. Yang anaknya masih panjang jalannya, masih SMA, masih butuh biaya sekolah, bimbel, seragam, dan semua yang menyertainya. Yang di tengah semua itu, ia masih menyimpan satu keinginan sederhana namun besar: melihat anaknya menjadi sarjana.
Perempuan seperti ini bukan pengecualian, mereka ada di sekitar kita. Masih banyak dari jutaan rumah tangga di Indonesia memiliki perempuan sebagai kepala keluarga atau pencari nafkah utama baik karena suami meninggal, sakit, menganggur, maupun kondisi lain. Namun narasi tentang mereka hampir tidak pernah sepopuler narasi tentang ibu yang “hanya” mengurus rumah.
Ada beban yang tidak tertulis dalam novel Ibuk, beban yang ditanggung oleh perempuan yang tidak hanya memikul kerja perawatan, tetapi juga tanggung jawab ekonomi, dan keberlangsungan keluarga seorang diri.
Ada istilah beban ganda, kondisi di mana seorang perempuan harus menanggung pekerjaan produktif (bekerja mencari nafkah) sekaligus pekerjaan reproduktif (mengurus rumah dan keluarga). Dalam novel, Tinah memang tidak digambarkan sebagai pencari nafkah utama karena peran tersebut dijalankan oleh Bayek. Namun bukan berarti pembagian beban dalam keluarga mereka otomatis setara. Tinah mengerjakan hampir seluruh pekerjaan domestik: memasak, membersihkan rumah, mengatur kebutuhan keluarga, merawat anak, serta memastikan kehidupan sehari-hari berjalan dengan baik. Jika dihitung dari waktu dan energi yang dicurahkan, kerja perawatan sering kali berlangsung lebih panjang daripada jam kerja mencari nafkah karena dimulai sejak sebelum anggota keluarga lain bangun hingga mereka kembali beristirahat. Persoalannya bukan semata siapa bekerja di ranah mana, melainkan bahwa pembagian tanggung jawab dalam keluarga sering tidak diukur berdasarkan waktu, tenaga, dan beban mental yang dikeluarkan masing-masing pihak.
Perempuan yang bekerja penuh waktu di luar rumah lalu pulang untuk memasak, mencuci, mendampingi anak belajar, dan memastikan semua berjalan ia tidak sedang menjalani satu kehidupan. Ia sedang menjalani dua, dalam satu tubuh, tanpa hari libur. Dan berbeda dengan pekerjaan kantoran yang ada jam pulangnya, pekerjaan mengurus keluarga tidak mengenal waktu tutup.
Yang membuat ini semakin berat adalah ketidakhadiran pengakuan. Pekerjaan domestik memasak, membersihkan rumah, merawat anak tidak masuk dalam hitungan ekonomi formal. Tidak ada gaji, tidak ada tunjangan, tidak ada cuti. Ketika seorang ibu jatuh sakit, tidak ada yang menggantikannya. Ketika ia kelelahan, ia tetap harus berdiri. Dan ketika ia berhasil membesarkan anak yang baik, penghargaan lebih sering jatuh kepada “keluarga” bukan kepadanya secara spesifik.
Salah satu hal paling mengharukan sekaligus paling kuat dari sosok perempuan yang menanggung beban ganda adalah di tengah semua kelelahan itu, ia masih menyimpan mimpi. Bukan mimpi untuk dirinya sendiri yang sudah lama ia sisihkan. Tapi mimpi untuk anaknya.
Keinginan Tinah untuk melihat anaknya menjadi sarjana tampak sederhana, tetapi menyimpan begitu banyak makna. Ada harapan bahwa kerja kerasnya hari ini akan membuka pintu yang lebih lebar bagi generasi berikutnya. Bahwa anaknya tidak perlu berjuang sekeras ini. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya warisan paling berharga yang bisa ia tinggalkan, jauh lebih abadi dari harta benda yang mungkin tidak pernah ia punya.
Dalam novel Ibuk, Tinah juga menyimpan impian serupa. Ia mendorong anak-anaknya untuk terus sekolah, meski kondisi keuangan keluarga sering kali memaksanya untuk memilih. Ada momen-momen di novel ketika Tinah harus menahan keinginannya sendiri untuk tidak membeli baju baru, tidak makan enak demi memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Impian seorang ibu untuk anaknya adalah bentuk cinta yang paling sunyi tidak banyak diucapkan, tapi ia yang menggerakkan tubuh yang lelah untuk tetap bangun setiap pagi.
Novel Ibuk, berakhir dengan nada penuh harapan: anak-anak Tinah berhasil, hidup mereka lebih baik dari generasi sebelumnya, dan Tinah dalam usianya yang semakin tua bisa melihat buah dari semua pengorbanannya. Ini adalah ending yang membahagiakan, dan memang begitulah kisah nyata dari Iwan Setiawan.
Tapi tidak semua cerita berakhir begitu. Ada perempuan yang sudah berkorban sama kerasnya atau lebih keras dan hasilnya tidak semulus itu. Ada yang jatuh sakit di tengah jalan karena terlalu lama mengabaikan dirinya sendiri. Ada yang tidak sempat melihat anaknya wisuda. Ada yang bertahan, tapi dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Novel yang hanya menceritakan versi yang berhasil tanpa menyentuh kondisi struktural yang membuat perjalanan itu begitu berat secara tidak langsung mengukuhkan narasi bahwa jika kamu cukup kuat, cukup sabar, cukup rela berkorban, semuanya akan baik-baik saja. Ini berbahaya karena mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang lebih penting: mengapa perempuan harus sekuat itu hanya untuk keluarganya bisa bertahan?
Ketimpangan gender dalam keluarga bukan hanya soal siapa yang mencuci piring. Ia menyangkut siapa yang menanggung risiko terbesar ketika keluarga menghadapi kesulitan ekonomi. Dalam banyak kasus, jawabannya adalah perempuan karena secara kultural, ia memang ditempatkan sebagai penyangga terakhir yang tidak boleh roboh, dan secara struktural pandangan tersebut dilanggengkan.
Bukan alasan untuk tidak membaca atau tidak mencintai novel Ibuk, novel ini tetap adalah karya yang indah, tulus, dan penting sebagai dokumen sosial kehidupan keluarga kelas bawah di Indonesia. Jika kita begitu mengagumi Tinah, mengapa kita tidak marah pada sistem yang memaksanya menanggung segalanya sendirian? Jika kita menangis membaca perjuangannya, apakah kita juga bersedia mengubah sesuatu dalam kehidupan kita agar perempuan-perempuan di sekitar kita tidak harus berjuang keras itu?
Dan untuk perempuan-perempuan yang sedang menjalani kehidupan seperti Tinah atau bahkan lebih berat dari Tinah ada sesuatu yang perlu dikatakan dengan lantang: apa yang kamu lakukan bukan “seharusnya” atau “sudah kodratnya.” Itu adalah kerja yang luar biasa, yang layak mendapat pengakuan, dukungan, dan penghargaan bukan diam-diam dikagumi dari kejauhan sambil bebannya terus dibiarkan bertumpuk.
Novel Ibuk, mengajarkan kita untuk bersyukur dan mencintai ibu. Tapi realitas di luar halaman novel mengajarkan sesuatu yang lebih mendesak: bahwa mencintai perempuan berarti berjuang agar ia tidak perlu sekuat itu hanya untuk keluarganya bisa hidup layak. Bahwa impian seorang ibu untuk anaknya adalah sesuatu yang seharusnya didukung oleh lebih dari sekadar ketabahan pribadinya.
Dan anak yang kelak menjadi sarjana itu semoga ia tahu bahwa di balik keberhasilannya, ada seorang perempuan yang memilih untuk tidak menyerah, setiap hari, tanpa banyak kata.
Penulis
Ellizabeth Shanty
Editor
Kalyanamitra